Ciptagelar – Desa Mandiri di Tengah Gunung

Mungkin untuk kamu yang membaca judul dari artikel ini akan langsung berpikir, “Desa di tengah gunung? Sudah biasa!”

Terletak di tengah-tengah Taman Nasional Gunung Halimun, desa Kasepuhan Ciptagelar terus memancarkan pesonanya. Tersembunyi di balik rimbunnya pohon di sekitar taman nasional, tidak membuat niat banyak turis lokal dan manca negara untuk datang berkunjung ke sana. Walaupun perjalanan yang sulit harus ditempuh untuk mencapai sana, tidak mengurungkan niat saya untuk pergi ke sana selama 3 hari 2 malam.

Dan kisah ini pun dimulai dengan beberapa bagian awal yang saya sengaja lewat untuk diceritakan…

Mungkin sebagian dari kamu berpikir, kenapa bisa ada masyarakat yang tinggal di tengah-tengah taman nasional? Karena, mereka sudah ada dan tinggal di daerah itu jauh sebelum taman nasional tersebut didirikan. Ditambah lagi, mereka adalah masyarakat adat. Mereka akan pindah ke tempat lain yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka yang sebelumnya ketika Abah – sebutan untuk pemimpin mereka, mendapatkan wangsit dari leluhurnya.

Bagaimana medan yang harus ditempuh untuk bisa mencapai desa ini?

Desa ini terletak di tengah-tengah Taman Nasional Gunung Halimun dan berjarak sekitar 17 kilometer dari kota Palabuhan Ratu. Untuk bisa mencapai desa ini, kita benar-benar harus dalam kondisi yang fit. Karena, walaupun 17 kilometer tidak terdengar terlalu jauh, namun medan yang harus ditempuh untuk menuju ke sini cukup ekstrem! Jangan harap kamu bisa mencapai desa ini dengan motor matic, karena jalanan menuju ke desa ini sama sekali belum menggunakan aspal. Semuanya masih alami, berupa tanah dan bebatuan. Ketika musim kemarau tiba, jalanan akan menjadi sangat berdebu, sementara ketika musim hujan tiba, jalanan akan menjadi sangat licin dan berlumpur. Terkadang, kita juga harus berhati-hati ketika mengendarai kendaraan menuju kesini, karena jika tidak berhati-hati kita bisa jatuh ke jurang kapan saja. Menakutkan? Tidak juga. Selain itu, kamu juga harus mempersiapkan berbagai alat-alat yang mungkin akan membantu kamu kalau tiba-tiba terjadi masalah pada mesin kendaraan kamu. Mungkin tidak terdengar terlalu menakutkan sampai saya harus mengatakkan, bayangkan kalau mobil kamu mogok di tengah hutan malam-malam, sementara jarak menuju desa masih jauh? Saya menyarankan untuk melakukan perjalanan di siang hari, karena jalanan yang saya gambarkan di atas akan terlihat lebih menyeramkan jika kamu melakukan perjalanan di malam hari. Maklum, tidak ada lampu penerangan di sepanjang jalan. Bahkan, kamu harus siap-siap memakai helm walaupun kamu menggunakan mobil – jaga-jaga kalau kepala akan terantuk atap mobil berkali-kali.

Apa lagi yang unik dari desa ini?

Image

Leuit – credit goes to Alifa Mariani

Desa ini merupakan sebuah desa yang sangat mandiri. Walaupun tempat tinggal mereka cukup jauh dari kota, hidup mereka sangatlah makmur. Mereka tidak membeli makanan apapun dari kota, semua makanan yang mereka makan adalah hasil jerih payah mereka sendiri. Bahkan saking makmurnya, dikatakan jika datang kemarau panjang selama 5 tahun, mereka tidak akan mati kelaparan. Kenapa? Karena persediaan beras di lumbung-lumbung padi mereka sangatlah banyak! Mereka juga memiliki larangan adat untuk tidak memperjualbelikan beras hasil tanam mereka (walau dalam bentuk nasi) keluar desa. Mereka percaya, jika mereka melakukan hal ini, akan ada kejadian buruk menimpa sang penjual.

Image

Kasepuhan Ciptagelar – Credit goes to Alifa Mariani

Jangan juga berpikir kalau desa ini benar-benar gelap gulita. Mereka memiliki listrik yang dijalankan dengan beberapa generator! Bahkan mereka bercerita bahwa waktu itu, ada petugas dari PLN yang ingin memasang tiang-tiang listrik agar dapat menjangkau desa mereka. Namun, mereka menolaknya! Benar-benar desa yang mandiri. Saking mandirinya, mereka bahkan memiliki stasiun TV dan radio sendiri. Hebat!

Desa ini benar-benar terdengar dan terlihat seperti desa mandiri yang tidak butuh bantuan dari pihak luar. Ketika ada seorang pengunjung yang ingin memberikan sumbangan berupa uang untuk desa mereka, mereka secara tegas menolaknya! Saya melihat mereka benar-benar hidup secara mandiri tanpa bantuan dari pihak luar.

Selain itu, mereka juga masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adatnya. Sangat menarik! Budaya Sunda pun masih sangat kental terasa di sana. Para penduduknya pun tidak malu-malu untuk terus melestarikan tradisinya secara turun temurun. Hal ini juga yang pada akhirnya membuat banyak turis mau datang berkunjung ke desa mereka walaupun harus menempuh perjalanan yang cukup sulit.

Pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari penduduk Ciptagelar adalah, hidup memang boleh mandiri, namun hidup bersama secara gotong royong juga sangatlah penting. Teruslah jaga tradisi yang kita punya, jangan sampai tergeser oleh tradisi lain hanya karena lebih menarik. Tradisi setiap masyarakat sangatlah unik dan pasti akan menarik jika kita terus menjaganya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: