Antara Menjadi Pembicara dan Pendengar

Kalau aku disuruh milih, aku bakal lebih milih untuk jadi pembicara dari pada pendengar. Aku tau, sebenarnya banyak banget orang yang butuh pendengar yang baik. Tapi sadar ga sih jadi pendengar itu ga enak?
Secara ga langsung, pendengar harus mendengarkan semua ocehan pembicara sampai tuntas. Entah itu menarik atau ga. Dan jujur ya, itu bukan hal yang enak kalau ga biasa!
Setiap hari aku berusaha untuk menjadi pendengar yang baik. Tapi nyatanya, jadi pendengar yang baik itu ga semudah yang kita kira. Aku capek jadi pendengar! Aku butuh didengar!
Setiap hari aku dengar orang marah-marah di hadapan aku. Padahal bukan aku yang salah. Bukannya ga mau disalahin. Tapi aku perhatiin, semua orang yang marah-marah di depan aku pasti panjang lebar. Misalnya, orang lain yang salah terus, karena orang tersebut ga bertanggung jawab, jadi aku yang kena sasaran. Dan marahnya selalu dikaitkan dengan masalah yang lain-lain. Bukannya aku ga mau jadi pendengar, tapi ya masa tiap hari sih? Gila aja!
Sampai pada akhirnya DIA bilang seseorang itu pecundang. Lalu DIA juga bilang bahwa aku pecundang. Dan sebenarnya aku yakin, DIA -lah yang pecundang. Karena DIA tidak pernah berusaha untuk menjadi pembicara yang baik, sehingga aku bosan menjadi pendengarnya. Akhirnya DIA akan menemukan dirinya sebagai seorang yang kalah karena kecerobohannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: